Mahasiswa KKN Universitas Boyolali Ciptakan Rocket Stove untuk Tekan Polusi Pembakaran Sampah di Kedungmulyo .ignielParagraphAds {text-align:center; margin:15px 0px;} -->

Mahasiswa KKN Universitas Boyolali Ciptakan Rocket Stove untuk Tekan Polusi Pembakaran Sampah di Kedungmulyo

12 Agustus 2026


PanturaPress.com, BOYOLALI
– Persoalan pengelolaan sampah domestik masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah pedesaan. Keterbatasan fasilitas pengolahan sampah membuat sebagian masyarakat memilih membakar sampah rumah tangga dan sampah pekarangan secara terbuka.


Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Boyolali (UBY) yang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Kedungmulyo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali.


Melalui program kerja berbasis teknologi tepat guna, mahasiswa KKN UBY menghadirkan Rocket Stove atau tungku roket sebagai alternatif untuk membantu mengurangi dampak pembakaran sampah domestik. Alat tersebut didemonstrasikan sekaligus diserahkan kepada masyarakat Desa Kedungmulyo pada Sabtu, 8 Agustus 2026.


Berawal dari Kebiasaan Membakar Sampah

Program tersebut lahir setelah mahasiswa KKN melihat kondisi pengelolaan sampah rumah tangga di lingkungan masyarakat. Sampah dari pekarangan maupun aktivitas rumah tangga masih ditemukan dimusnahkan dengan cara dibakar secara konvensional.


Pembakaran terbuka dinilai memiliki sejumlah persoalan. Selain menghasilkan asap yang mengganggu lingkungan sekitar, proses tersebut juga dapat menimbulkan partikel dan emisi yang berpotensi menurunkan kualitas udara.


Mahasiswa kemudian mencoba menghadirkan solusi yang lebih terkontrol melalui pembuatan Rocket Stove dengan memanfaatkan material yang relatif mudah diperoleh dan terjangkau oleh masyarakat.


“Teknologi ini kami kenalkan sebagai salah satu alternatif agar masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran sampah secara terbuka di sembarang tempat,” demikian penjelasan perwakilan mahasiswa KKN UBY Desa Kedungmulyo dalam kegiatan tersebut.


Menggunakan Konsep Pembakaran Ganda

Rocket Stove yang diperkenalkan mahasiswa KKN UBY dirancang dengan prinsip double combustion atau pembakaran ganda yang dipadukan dengan sistem sirkulasi udara secara alami.


Udara dari bagian bawah tungku dialirkan secara berkelanjutan menuju ruang pembakaran. Dengan suplai oksigen yang lebih baik dan desain ruang bakar yang terisolasi, pembakaran dapat berlangsung pada temperatur tinggi.


Dalam kondisi tersebut, gas dan partikel hasil pembakaran yang masih mudah terbakar dapat mengalami pembakaran lanjutan sebelum keluar dari tungku.


Konsep tersebut membuat proses pembakaran menjadi lebih efisien dibandingkan pembakaran terbuka. Api juga dapat terjaga lebih stabil sehingga material yang dibakar lebih cepat terurai dan menyisakan abu dalam jumlah relatif sedikit.


Meski demikian, penggunaan Rocket Stove tetap membutuhkan pemilahan sampah. Sampah yang mengandung bahan berbahaya, seperti baterai, elektronik, plastik tertentu, atau material beracun, tidak semestinya dibakar karena dapat menghasilkan emisi berbahaya.


Dibuat dari Material yang Mudah Didapat

Salah satu keunggulan program KKN tersebut adalah pendekatan teknologi tepat guna. Mahasiswa tidak membuat alat dengan komponen yang sulit ditemukan, melainkan memanfaatkan material yang tersedia di sekitar masyarakat.


Dalam pembuatan Rocket Stove tersebut digunakan sejumlah bahan, antara lain drum bekas, pipa besi, serta semen cor sebagai material isolator panas.


Pemanfaatan barang bekas juga menjadi bagian dari edukasi mahasiswa mengenai pentingnya kreativitas dalam menghasilkan teknologi sederhana yang dapat diterapkan di tingkat masyarakat.


Dengan konstruksi yang relatif sederhana, warga diharapkan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memahami prinsip dasar pembuatan dan pengoperasian alat.


Warga Diberikan Edukasi Langsung

Kegiatan KKN tidak berhenti pada penyerahan alat. Mahasiswa juga memberikan sosialisasi kepada warga dan perangkat Desa Kedungmulyo mengenai cara kerja, pembuatan, penggunaan, serta aspek keselamatan dalam mengoperasikan Rocket Stove.


Dalam demonstrasi tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana sistem pembakaran pada tungku bekerja.


Edukasi menjadi bagian penting karena keberadaan teknologi tepat guna tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila masyarakat tidak memahami cara penggunaan dan perawatannya.


Mahasiswa juga mendorong agar pengelolaan sampah dilakukan secara lebih bertanggung jawab, mulai dari pemilahan hingga menentukan jenis sampah yang dapat dan tidak dapat dibakar.


Mendapat Respons Positif dari Pemerintah Desa

Kepala Desa Kedungmulyo menyambut positif inovasi yang dibawa mahasiswa KKN Universitas Boyolali tersebut.


Menurut pemerintah desa, kehadiran Rocket Stove dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengurangi kebiasaan membakar sampah secara terbuka.


Selain membantu mengendalikan lokasi pembakaran, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi gangguan asap yang selama ini berpotensi mengganggu warga di sekitar lokasi.


Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan KKN tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial, tetapi dapat diarahkan pada penyelesaian persoalan yang ditemui mahasiswa selama berada di tengah masyarakat.


Diharapkan Bisa Dikembangkan ke Wilayah Lain

Universitas Boyolali melalui kegiatan KKN tersebut berharap teknologi sederhana seperti Rocket Stove dapat terus dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.


Desa Kedungmulyo diharapkan dapat menjadi salah satu contoh penerapan teknologi tepat guna yang berangkat dari persoalan sehari-hari masyarakat.


Ke depan, pendekatan serupa berpotensi diterapkan di dusun atau desa lain dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, pemilahan sampah, serta dampak lingkungan.


Bagi mahasiswa KKN UBY, pembuatan Rocket Stove bukan sekadar menghasilkan sebuah tungku pembakaran. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan teknologi tepat guna, meningkatkan kesadaran pengelolaan sampah, dan mendorong masyarakat menjaga kualitas lingkungan.


Dari Desa Kedungmulyo, sebuah inovasi sederhana diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengelolaan sampah pedesaan yang lebih tertib, sehat, dan ramah lingkungan. (Aris)